17 October 2011

Hujan

aku duduk tunduk malu pada saat dia jerit dalam selongkar kata suara yang cukup kuat hingga aku sendiri jadi malu.

"tolong pergi, jangan pernah kembali. dan jangan lagi berani usik hati ini!"

dia jerit, ya jerit. kuat hingga aku belum pasti apa aku yang salah. dia sudah seolah letih menongkah arus hati. dia sudah seolah penat melayan kuasa hati. kalau boleh, dia minta aku untuk berhenti dan cukup sampai disini.

aku bangun berdiri, dan pandang wajah dia. aku usap dan pandang tepat mata bulatnya. aku katakan padanya.

dalam awak yang akan berlalu saat demi saat. dalam hati yang berubah dalam hari demi hari. dan dalam saya yang tetap tunggu dalam lelah.

untuk awak dan hati.

"Aku ini seperti hujan. cuma hujan jatuh berteman, aku jatuh sendirian."

1 comment:

Hambiah Liyana said...

eh sedih la pulak. huhuhu.