28 October 2012

Surat Untukmu Manisku.

Salam untukmu manisku,

Masih terngiang ngiang suara nyaringmu memeluk langit malam, sedang waktu kita duduk bermesra di atas bumbung sana. masih terasa lembut harum bau rambutmu saat kamu bersandar dibahuku.

apa kamu masih ingat saat hujan turun lebat, saat bulan bersembunyi dibalik awan, dan pada saat bintang jauh ditutupi langit gelap. kita duduk di atas bumbung sana, bercerita tentang impian. kata kamu, mahu jadi pelangi selepas hujan kerana pelangi akan memberi harapan pada manusia yang tak lelah untuk berharap.

dan malam itu menjadi saksi, bagaimana telatahmu membuat aku jatuh dengan manis. bagaimana lembut tuturmu membuat aku terbang dibuai mimpi.

tapi itu untuk dulu, saat malam ku dibumbung ini tak sesunyi sekarang. saat malam ku dibumbung ini dipenuhi bintang yang kamu ciptakan. dan saat malamku dibumbung ini bertemankan kerinduan yang kamu bangkitkan.

sekarang aku masih lagi mendengar suaramu dibumbung ini saat malam datang bertandang. bagai hembusan angin yang lekat, menjamah setiap baris kalimat yang kusuarakan.

adakah kamu sedang persiapkan satu cahaya untuk kegelapan yang aku ciptakan? adakah kamu memberi maaf bagi kesalahan yang kulakukan? atau adakah kamu sudi untuk kembali memberi pelangi pada aku yang telah kamu tinggalkan?

kerana sudah terlampau jauh rasanya, aku jatuh dalam cinta yang tak pernah kau izinkan.


                                                                                                           Yang Benar,
                                                                                                               Aksara.

19 October 2012

Tuhan.


Aku tak mahu kemana mana, cukup di sampingmu saja. sampai datang malaikat si pencabut nyawa.

15 October 2012

Segelas Susu Pekat Warna Bintang, Dan Segengam Gula Gula Kapas Dari Awan

Malam,
gelap,
pekat.

duduk seorang manusia,
di atas bumbung itu.
melihat bulan,
mencari bintang,
tapi yang ada hanya kesunyian.

di tengah pekat malam,
dia masih setia terjaga,
dia masih jujur untuk menjaga,
apabila sampai waktu bersama.

tapi dia selalu bertanya,
dimana letaknya sial manusia.

dan bila dia sudah punya jawapan,
dia bilang pada semua ;

sial manusia terletak pada.
hati,
dan terjerumus dengan perasaan.

bahagialah mereka yang baik hatinya,
dan masih waras tentang perasaannya.

kerana bagi dia,
hati mengembang menjadi bunga,
perasaan berbunga menjadi buah
dan berbuahlah ia dengan warna kebebasan ;

dan sampai waktu dia harus berhenti berfikir.
sampai waktu dia harus berhenti untuk duduk di atas bumbung itu.